Pemerintah Perancis mengonfirmasi temuan kasus pertama di dunia terkait infeksi Virus Shamonda pada manusia. Seorang pasien dilaporkan meninggal dunia pada awal Oktober 2026 akibat infeksi tersebut.
Pengumuman resmi ini disampaikan pada Kamis (23/10/2026) oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian Perancis. Temuan ini menjadi catatan baru, mengingat selama puluhan tahun Shamonda dikenal sebagai virus yang hanya menginfeksi hewan ternak dan dianggap tidak menular ke manusia.
Pasien yang meninggal merupakan pria berusia 60 tahunan yang tinggal di kawasan Lyon, Perancis timur. Ia menjalani perawatan di Hospices Civils de Lyon.Berdasarkan laporan, pasien tersebut memiliki riwayat penyakit serius dengan kondisi imun yang sangat lemah. Ia mulai mengalami gejala gangguan neurologis pada 23 September, sebelum akhirnya meninggal dua minggu kemudian. Tim medis menyebutkan komplikasi pada otak yang dialami pasien sangat mungkin berhubungan dengan infeksi Shamonda. Laporan media lokal Le Progres menyebut korban merupakan pasien dengan imunodefisiensi berat.
Kepala Direktorat Kesehatan Perancis, Gregory Emery, menyebut kasus ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dari sisi keilmuan. Kondisi imun pasien yang sangat lemah diduga menjadi faktor utama yang membuat virus ini bisa menginfeksi.
Otoritas Perancis menduga penularan terjadi melalui gigitan agas Culicoides, yakni serangga kecil penghisap darah yang menjadi vektor utama pada hewan.Dugaan ini menguat karena di wilayah timur Perancis tempat pasien tinggal, sirkulasi virus Shamonda pada hewan ternak memang tercatat cukup tinggi selama musim semi hingga musim panas 2026.
Virus Shamonda (SHAV) tergolong Orthobunyavirus. Virus ini pertama kali diidentifikasi di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Selama puluhan tahun, virus ini hanya beredar secara sporadis pada hewan ternak di Afrika Barat, Timur, Selatan, dan Jepang.Sapi menjadi inang utamanya. Pada sapi, infeksi dapat menimbulkan demam, diare, penurunan produksi susu, hingga keguguran pada sapi bunting.
Memasuki musim panas 2026, virus ini untuk pertama kalinya terdeteksi di Eropa, termasuk di Perancis. Selain menyerang sapi, kasus sporadis juga ditemukan pada domba, kambing, dan kuda.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tengah berkoordinasi dengan otoritas Perancis. WHO menegaskan kasus ini merupakan kasus terisolasi dan kecil kemungkinan memicu penyebaran yang lebih luas. Baik WHO maupun ECDC Eropa menekankan, hingga kini tidak ada bukti penularan dari manusia ke manusia. Penyelidikan lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian dan jalur penularannya.

