
Gelombang unjuk rasa menolak lonjakan biaya hidup di Prancis berubah menjadi kerusuhan paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Puncaknya terjadi pada Sabtu (17/10/2026), ketika massa membakar habis Balai Kota Limoges, sebuah gedung bersejarah berusia 143 tahun yang menjadi ikon kota di Prancis.
Gedung yang dibangun antara tahun 1876 hingga 1883 dengan gaya neo-Renaissance ini ditetapkan sebagai monumen bersejarah Prancis sejak 1975. Bangunan megah ini bahkan selamat dari dua perang dunia, namun tidak selamat dari amukan massa akhir pekan kemarin.
Aksi demonstrasi Sabtu sore itu awalnya berjalan damai dengan tuntutan kenaikan upah, penurunan harga bahan pokok dan BBM, serta perbaikan layanan publik. Namun situasi di Limoges memburuk drastis menjelang pukul 18.00 waktu setempat.
Menurut laporan otoritas setempat, sekitar 2.000 orang berkumpul di kawasan timur kota, dan lebih dari 500 orang di antaranya sengaja memicu kerusuhan. Sekelompok orang bertopeng lebih dulu membakar mobil polisi di depan balai kota sebagai pengalih perhatian. Setelah itu mereka memecahkan kaca jendela, mendobrak pintu utama, dan memaksa masuk ke dalam gedung untuk menyulut api dari dalam. Api dengan cepat menjalar karena struktur kayu tua di dalam gedung.
Prefek Haute-Vienne Maurice Barate menilai insiden ini sebagai pukulan berat bagi warisan budaya. Ia mengungkapkan kondisi gedung yang sangat parah, “Atapnya telah runtuh menimpa lantai-lantai di bawahnya, kecuali di sayap barat, dan dua pertiga bagian luar bangunan sudah lenyap.”Barate memastikan kebakaran itu merupakan aksi yang disengaja. Hal serupa disampaikan Wali Kota Limoges Guillaume Guerin yang menyebut pembakaran tersebut telah direncanakan, bahkan membuat staf di dalam gedung sangat ketakutan akan keselamatan mereka. Sementara itu, laporan prefektur mencatat empat polisi mengalami luka berat, empat mobil patroli dihancurkan, dan setidaknya 19 orang ditahan.
Kerusuhan tidak hanya terjadi di Limoges. Di Paris, massa bertopeng menjarah butik mewah seperti Apple, Louis Vuitton, dan Hermès, serta supermarket dan apotek. Di Marseille dan Lille, massa mendobrak balai kota dan mencoret dinding dengan grafiti. Di Lyon, kantor pariwisata kota dibakar, dan di Bordeaux, kantor polisi dirusak.
Presiden Emmanuel Macron dan PM Sebastien Lecornu mengecam keras aksi tersebut dan memastikan pelaku perusakan akan diproses hukum. Hingga Minggu (18/10), api di Balai Kota Limoges telah dikendalikan, namun gedung dinyatakan hampir seluruhnya hilang dan butuh rekonstruksi total.
Penulis: Juhana Shania F







