Aksi kejam demi keuntungan terjadi di dunia pendidikan China. Pengadilan China akhirnya menjatuhkan vonis berat kepada enam orang yang dengan sengaja meracuni ratusan balita di sebuah taman kanak-kanak hanya karena ingin makanan terlihat lebih cantik dan menarik.
Enam orang tersebut terbukti menyajikan makanan yang dicampur pigmen cat industri mengandung timbal, hingga menyebabkan 247 anak mengalami keracunan berat dengan kadar timbal dalam darah jauh di atas ambang batas normal.
Kasus yang menggemparkan ini terjadi di Heshi Peixin Kindergarten, Distrik Maiji, Kota Tianshui, Provinsi Gansu, China barat laut. Putusan dibacakan oleh Pengadilan Menengah Rakyat Kota Lanzhou pada Jumat (16/10/2026).
Hukuman paling berat dijatuhkan kepada Li Huifang, penanggung jawab sekaligus pemilik TK. Ia divonis penjara seumur hidup, pencabutan hak politik seumur hidup, serta penyitaan aset pribadi senilai 500.000 yuan atau setara Rp1,3 miliar. Rekannya, Zhu Jinglin selaku kepala sekolah eksekutif, dihukum 15 tahun penjara dan denda 300.000 yuan atau sekitar Rp809 juta. Keduanya menjadi otak yang memerintahkan staf dapur menambahkan zat berbahaya ke makanan. Sementara empat pekerja dapur yang menjadi eksekutor masing-masing dihukum 6 hingga 8 tahun penjara beserta denda. Di persidangan mereka mengaku hanya menjalankan perintah atasan.
Fakta persidangan mengungkap motif yang tak masuk akal. Agar corn rolls dan kue kurma terlihat lebih berwarna-warni untuk menarik calon siswa baru, mereka sengaja menambahkan pigmen industri yang tidak layak konsumsi dan mengandung timbal tinggi.
Praktik itu telah berlangsung setiap bulan sejak Mei 2024. Hasil laboratorium menemukan kadar timbal yang sangat mengerikan, yakni 1.340 mg/kg di corn rolls dan 1.052 mg/kg di kue kurma. Padahal batas aman nasional China hanya 0,5 mg/kg.
Kasus baru terbongkar pada Juli 2025 setelah orang tua mengeluhkan anak-anak mereka mengalami mual, sakit perut kronis, rambut rontok, hingga muncul garis hitam di gusi. Saat pemeriksaan massal dilakukan, dari 251 anak yang dites, 247 anak dinyatakan positif memiliki kadar timbal sangat tinggi. Lebih dari 20 staf pengajar juga ikut terpapar.
Paparan timbal pada balita sendiri sangat berbahaya karena dapat merusak sistem saraf, menghambat perkembangan otak, merusak ginjal, dan menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang.
Seluruh korban kemudian menjalani perawatan intensif dan intervensi gizi di rumah sakit. Hingga 20 Juli 2025, kondisi sebagian besar anak membaik dan kadar timbal dalam darah turun rata-rata 40 persen. Pihak berwenang memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah dan sekolah Heshi Peixin kini telah ditutup permanen.
Kasus ini berbuntut panjang. Selain enam pelaku utama, 10 pejabat lokal di Tianshui ikut diperiksa karena diduga menerima suap, memanipulasi hasil tes laboratorium di Rumah Sakit Rakyat No.2 Tianshui, dan berupaya menutup-nutupi kasus agar tidak mencuat ke publik. Mereka kini terancam hukuman disiplin hingga pidana.









