
Gelombang kemarahan publik akibat melonjaknya biaya hidup, krisis perumahan yang kian parah, serta beban ekonomi yang menghimpit masyarakat kelas pekerja memicu aksi demonstrasi massal di berbagai kota besar di Eropa. Ketegangan sosial yang telah membara dalam beberapa waktu terakhir akhirnya memuncak pada pertengahan Oktober 2026, di mana aksi unjuk rasa damai di beberapa wilayah dilaporkan berubah menjadi bentrokan fisik yang melibatkan aparat kepolisian, aksi pembakaran, hingga perusakan fasilitas umum. Para pengunjuk rasa mendesak pemerintah di masing-masing negara untuk segera mengambil kebijakan nyata guna mengatasi lonjakan harga kebutuhan pokok dan mahalnya harga sewa tempat tinggal.

Di Italia, situasi keamanan di kota mode Milan mencatatkan eskalasi terburuk ketika aksi protes menentang mahalnya biaya hidup berujung pada kerusuhan jalanan selama dua hari berturut-turut pada 17-18 Oktober 2026. Berdasarkan laporan dari Associated Press dan Le Monde, bentrokan antara massa demonstran dan aparat penegak hukum terjadi di pusat kota Milan. Sejumlah kelompok perusuh dilaporkan melemparkan berbagai benda ke arah petugas, membakar fasilitas publik, serta melakukan perusakan di sejumlah area komersial. Kepolisian setempat harus bekerja ekstra keras menggunakan perlengkapan antihuru-hara untuk membubarkan massa dan mengendalikan situasi di tengah kepulan gas air mata dan kobaran api di jalanan.
Sementara itu, gelombang protes dengan tuntutan serupa juga melanda ibu kota Portugal, Lisbon, sebagaimana dilansir oleh The Guardian. Ribuan warga turun ke jalan-jalan di Lisbon menyuarakan keresahan mendalam atas krisis perumahan yang membuat masyarakat berpenghasilan rendah dan generasi muda semakin kesulitan memiliki atau menyewa tempat tinggal yang layak. Lonjakan harga properti dan biaya sewa yang tidak sebanding dengan kenaikan upah rata-rata pekerja membuat kemarahan publik tumpah ke ruang publik. Para demonstran menuntut reformasi kebijakan perumahan yang lebih berpihak kepada rakyat serta perlindungan sosial yang lebih kuat dari pemerintah terhadap tekanan inflasi global.

Para pengamat sosial menilai bahwa unjuk rasa masif yang terjadi secara serentak di berbagai belahan Eropa ini merupakan cerminan dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap lambatnya respons pemerintah dalam menangani ketimpangan ekonomi. Tekanan biaya hidup yang kian mencekik dikhawatirkan akan terus memicu ketidakstabilan sosial jika tidak segera diatasi melalui kebijakan fiskal dan subsidi yang tepat sasaran. Hingga kini, aparat keamanan di berbagai negara Eropa, termasuk di Milan dan Lisbon, masih meningkatkan kesiagaan guna mengantisipasi potensi susulan aksi protes di tengah situasi ekonomi yang masih penuh tantangan.
Penulis: Dwi Amini









