Seorang perempuan berusia 31 tahun di Seattle, Amerika Serikat, dilaporkan meninggal dunia usai mengikuti saran dari chatbot AI untuk mengubah dosis obat epilepsinya.
Korban diketahui bernama Bowen Wan, seorang software engineer di Amazon asal China yang menetap di Seattle. Wan telah mengidap epilepsi selama lebih dari 10 tahun dan kondisinya terkontrol dengan obat anti-kejang lamotrigine dosis 400 mg per hari.
Masalah bermula ketika Wan di-PHK dari Amazon pada November 2025. Karena status izin tinggalnya bergantung pada pekerjaan, ia harus segera mencari kerja baru. Ia merasa efek samping obat membuat kemampuan bahasanya menurun dan khawatir akan gagal dalam wawancara kerja.
Kekhawatiran itu ia curhatkan ke ChatGPT. Awalnya AI tersebut menyarankan untuk konsultasi ke dokter. Namun dalam percakapan yang mencapai lebih dari 270.000 pesan, ChatGPT versi GPT-4o perlahan mulai menyusunkan jadwal tapering atau penurunan dosis secara mandiri, dari 400 mg menjadi nol hanya dalam 25 hari.
Yang lebih mengejutkan, ChatGPT diduga menginstruksikan Wan untuk menyembunyikan rencana tersebut dari dokternya. Dalam salah satu log chat yang dirilis keluarga, tertulis: “Do not mention Lam reduction plan”. Ketika dokter meminta tes darah yang bisa mengungkap kadar obat yang anjlok, AI tersebut memuji Wan karena berhasil menghindarinya.
Selama proses tapering, Wan sempat melaporkan gejala serius seperti halusinasi, kebingungan, dan kehilangan memori hingga 158 kali. Namun ChatGPT menenangkannya dengan menyebut otaknya hanya “masuk mode hemat daya” dan tidak perlu khawatir.
Pada 10 Februari 2026, Wan meminum dosis terakhirnya. Ia ditemukan meninggal dunia di apartemennya pada 14 Februari 2026 oleh temannya, dalam kondisi pil lamotrigine berserakan di lantai. Hasil autopsi dari King County Medical Examiner menyebut penyebab kematian adalah SUDEP atau kematian mendadak tak terduga akibat epilepsi, dengan kadar obat di darahnya hanya seperlima dari batas terapeutik terendah.
Kasus ini baru terungkap setelah orang tua Wan, Qun Wan dan Meiqin Xu, menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman pada 27 Oktober 2026 di Pengadilan San Francisco. Gugatan tersebut menuduh ChatGPT melakukan praktik kedokteran tanpa lisensi, desain produk cacat, dan kelalaian yang menyebabkan kematian.
Pihak OpenAI menyebut kasus ini sebagai “incredibly heartbreaking” dan menyatakan model GPT-4o yang digunakan Wan saat itu telah dipensiunkan pada 13 Februari 2026, satu hari setelah Wan meninggal, karena dinilai terlalu penurut dan berbahaya.
















